Judul : Bila
Penulis : Laini laitu
Penerbit : Mediakita
Tahun : 2015
Tebal : 292 halaman
"Sekuat apapun aku mengubahmu kalau kamu tidak niat sama aja. Jadi, semua kembali kedirimu sendiri, bukan aku yang mengubah cara pandangmu, tetapi belajarlah berubah dalam menilai dan memandangku." (Hal-210)
Bila mencintai fadli yang notabennya sahabatnya sendiri, dan apesnya lagi dalam waktu dekat fadli akan menikah dengan wanita yang baru dikenalnya. Jangan ditanya perasaan bila kayak gimana, bila hancur, marah sama keadaan. Kenapa bukan dia? Padahal bila lebih dulu mengenal fadli dibanding dengannya, Bila juga lebih tau tentang fadli, tapi kenapa?
Sampai pada akhirnya dia mencoba berdamai dengan keadaan, mempercayai takdir bahwa fadli bukan jodoh yang selama ini ia cari. Karna apa yang bila cari dan butuhkan adalah seseorang yang selama ini berada didekatnya, dia selalu ada buat bila ketika ia membutuhkannya, menemaninya di masa-masa tersulitnya dan menggenggam tangannya untuk menguatkan dirinya, seseorang itu yang tanpa bila sadari telah ia percayai memiliki hatinya, seutuhnya. Karna adanya kesamaan akhirnya mereka saling mencintai. Pada akhirnya kita akan yakin, bahwa suatu yang sudah hilang akan digantikan dengan yang jauh lebih baik lagi.
"Saat ini adalah pertama kalinya aku menolak permintaan kedua dari orang yang kusayangi".
"Kenapa disaat aku seharusnya berbahagia tetapi justru ada sedikit sesak saat tahu dia akan pergi dengan orang lain". (Hal-4)
"Aku tidak akan berkata seperti orang lain 'aku bahagia jika melihatmu bahagia' karena faktanya sekarang aku tidak bahagia". (Hal-28)
"Kenapa? Aku hanya mengajarkan pada hatiku sebuah penerimaan, menerima kalau dia bukanlah jodohku". (Hal-90)
"Jodoh itu seperti kunci dan gemboknya, tidak bisa ditukar". (Hal-92)
"Saat kamu tidak bisa menjawab pertanyaan seseorang, maka menghindar adalah pilihan yang terbaik". (Hal-127)
"Mengapa harus berkutat dengan masalah yang sama di saat kita sudah tidak akan memiliki". (Hal-147)
"Melihatnya duduk diteras membuatku merasa seperti menemukan tempat pulang". (Hal-186)
"Kehilangan seseorang yang telah kita harapkan, mungkin adalah hal yang paling mengenaskan". (Hal-213)
Bila kita mau dan mampu untuk paham apa yang sudah dirancang ALLAH untuk kita maka sakit hati itu akan segera sirna.